Jakarta, 2 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto menilai Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 memiliki potensi besar menjadi jembatan untuk memperkuat kerja sama dan konektivitas antarnegara di kawasan. Pandangan tersebut disampaikan Prabowo ketika menghadiri jamuan santap siang bersama Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok, Rusia, di sela rangkaian agenda EEF. Prabowo menyampaikan rasa terhormat karena Indonesia kembali mendapatkan kesempatan berpartisipasi dalam salah satu forum ekonomi penting yang digelar Rusia tersebut. Menurutnya, EEF tidak hanya menjadi tempat membicarakan investasi dan perdagangan, tetapi juga membuka ruang bagi negara-negara untuk membangun hubungan ekonomi yang semakin terhubung. Indonesia melihat kawasan Asia Pasifik memiliki potensi pertumbuhan besar sehingga membutuhkan lebih banyak kerja sama yang mampu memperkuat perdagangan, investasi, energi, teknologi, dan pembangunan infrastruktur. Posisi Indonesia yang berada di jalur strategis perdagangan internasional juga membuat peningkatan konektivitas kawasan memiliki arti penting bagi perekonomian nasional. Karena itu, kehadiran Indonesia dalam EEF diharapkan dapat menghasilkan peluang kerja sama konkret yang memberikan keuntungan bagi seluruh pihak.
Dalam pertemuan dengan Putin, Prabowo menegaskan hubungan Indonesia dan Rusia telah berkembang selama lebih dari lima dasawarsa dan memiliki fondasi persahabatan yang kuat. Hubungan kedua negara kini telah berada pada tingkat kemitraan strategis dengan cakupan kerja sama yang semakin luas. Prabowo menyampaikan Indonesia ingin terus meningkatkan hubungan tersebut di berbagai bidang dengan prinsip saling menguntungkan. Pemerintah tidak ingin hubungan bilateral hanya terlihat melalui pertemuan tingkat tinggi, tetapi juga menghasilkan peningkatan perdagangan, investasi, teknologi, dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat. Rusia dinilai memiliki kemampuan pada sejumlah sektor yang dapat melengkapi kebutuhan pembangunan Indonesia. Sebaliknya, Indonesia memiliki pasar besar, sumber daya, serta posisi strategis yang dapat menjadi pintu bagi pengembangan hubungan Rusia dengan kawasan Asia Tenggara. Kombinasi tersebut menjadi salah satu alasan kedua negara terus membuka ruang untuk memperluas kemitraan dalam berbagai proyek jangka panjang.
EEF ke-11 menjadi momentum penting karena Prabowo hadir sebagai tamu kehormatan utama atas undangan khusus Putin. Status tersebut menunjukkan Indonesia mendapatkan perhatian besar dalam agenda ekonomi Rusia di kawasan Timur Jauh. Putin bahkan menyebut Indonesia sebagai salah satu mitra kunci Rusia di Asia Pasifik sekaligus sahabat terpercaya di kawasan ASEAN. Hubungan tersebut dinilai memiliki prospek semakin besar karena komunikasi politik antara kedua negara berlangsung cukup intensif dalam beberapa tahun terakhir. Prabowo sebelumnya juga menjadi tamu kehormatan dalam St. Petersburg International Economic Forum pada 2025. Kehadirannya kembali dalam forum ekonomi Rusia memperlihatkan kesinambungan diplomasi ekonomi yang dibangun Jakarta dan Moskow. Pemerintah Indonesia berharap hubungan politik yang kuat tersebut dapat menjadi landasan untuk mempercepat penyelesaian berbagai pembicaraan bisnis dan investasi. Pertemuan langsung antarpemimpin juga dapat memberikan dorongan kepada kementerian dan perusahaan kedua negara untuk mempercepat tindak lanjut kesepakatan.
Hubungan perdagangan Indonesia dan Rusia turut menunjukkan perkembangan positif dengan peningkatan volume perdagangan sekitar 12 persen pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa masih terdapat ruang besar untuk memperluas pertukaran barang dan jasa antara kedua negara. Indonesia memiliki berbagai produk potensial untuk pasar Rusia, termasuk produk pertanian, perkebunan, perikanan, makanan olahan, serta berbagai barang manufaktur. Rusia pada sisi lain memiliki sejumlah komoditas, teknologi, dan produk industri yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan maupun kegiatan produksi Indonesia. Peningkatan perdagangan perlu diarahkan menuju struktur yang semakin seimbang agar manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh pelaku usaha kedua negara. Pemerintah juga dapat mendorong lebih banyak kerja sama antarbisnis sehingga hubungan tidak hanya bergantung pada perdagangan komoditas dalam skala besar. Pelaku UMKM dan perusahaan menengah dapat memperoleh peluang apabila akses pasar dan sistem pembayaran semakin mudah. Perjanjian perdagangan dengan kawasan Eurasia juga berpotensi membuka kesempatan lebih luas bagi produk Indonesia memasuki pasar regional.
Konektivitas menjadi salah satu aspek yang ditekankan Prabowo karena pertumbuhan perdagangan membutuhkan jaringan transportasi dan logistik yang efisien. Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada di antara Samudra Hindia dan Pasifik serta dilewati sejumlah jalur perdagangan internasional penting. Rusia memiliki kawasan Timur Jauh yang secara geografis menghadap langsung ke Asia Pasifik dan sedang dikembangkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi. Peningkatan hubungan antara kedua kawasan dapat menciptakan jalur perdagangan baru sekaligus memperluas pilihan logistik bagi perusahaan. Kerja sama pelabuhan, transportasi laut, pembangunan kapal, dan jaringan distribusi dapat menjadi bagian dari pengembangan konektivitas tersebut. Efisiensi logistik sangat menentukan daya saing karena biaya pengiriman dapat memengaruhi harga produk ketika memasuki pasar negara lain. Pemerintah perlu memastikan pembicaraan mengenai konektivitas diterjemahkan menjadi proyek yang memiliki kelayakan ekonomi dan memberikan manfaat nyata. Jika berhasil, hubungan Indonesia dengan Timur Jauh Rusia dapat berkembang menjadi salah satu jalur baru dalam perdagangan kawasan.
Sektor maritim memiliki peluang besar dalam hubungan tersebut karena Indonesia dan Rusia sama-sama memiliki kepentingan terhadap pengembangan transportasi laut. Putin sebelumnya menyampaikan kesiapan Rusia meningkatkan kerja sama dalam pembangunan kapal bersama Indonesia. Bagi Indonesia, kolaborasi tersebut dapat membantu memperkuat kemampuan galangan kapal nasional sekaligus memenuhi kebutuhan armada untuk transportasi, perdagangan, perikanan, dan industri. Namun, kerja sama pembangunan kapal diharapkan tidak berhenti pada pembelian produk jadi dari luar negeri. Transfer teknologi, penggunaan komponen dalam negeri, serta keterlibatan tenaga ahli Indonesia perlu menjadi bagian penting dari proyek apabila direalisasikan. Dengan pola tersebut, investasi dapat meninggalkan kemampuan produksi yang tetap dimiliki industri nasional setelah proyek selesai. Indonesia juga dapat mengembangkan kapal yang sesuai dengan karakter geografis sebagai negara kepulauan. Penguatan industri maritim selanjutnya dapat menciptakan lapangan pekerjaan serta memperbesar kapasitas manufaktur nasional.
Energi turut menjadi salah satu bidang strategis yang dibahas kedua negara, termasuk kemungkinan pengembangan teknologi nuklir. Rusia memiliki pengalaman panjang dalam pembangunan dan pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir serta menawarkan kerja sama kepada berbagai negara. Indonesia sedang mempertimbangkan berbagai pilihan sumber energi untuk memenuhi peningkatan kebutuhan listrik sekaligus mengurangi emisi dalam jangka panjang. Nuklir dapat menjadi salah satu alternatif karena mampu menghasilkan listrik dalam jumlah besar secara stabil, tetapi pengembangannya membutuhkan persiapan sangat ketat. Keselamatan, pembiayaan, lokasi, teknologi, pengelolaan limbah, regulasi, dan penerimaan masyarakat harus diperhitungkan sebelum keputusan pembangunan diambil. Indonesia juga perlu membandingkan teknologi dari berbagai penyedia agar memperoleh pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan nasional. Kerja sama dengan Rusia dapat menjadi salah satu opsi tanpa menutup kemungkinan kolaborasi dengan negara lain. Prinsip utama pemerintah tetap memastikan setiap keputusan energi memberikan keamanan pasokan dan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Pertanian menjadi sektor lain yang berpotensi berkembang melalui kemitraan Indonesia dan Rusia. Ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Prabowo sehingga kerja sama internasional dapat digunakan untuk memperkuat produksi dalam negeri dan menjaga stabilitas pasokan. Rusia merupakan produsen besar sejumlah komoditas pertanian serta memiliki kemampuan dalam teknologi produksi, pupuk, dan mekanisasi. Indonesia dapat memanfaatkan kerja sama tersebut untuk meningkatkan produktivitas tanpa menciptakan ketergantungan berlebihan terhadap impor. Pertukaran teknologi dan penelitian dapat memberikan manfaat lebih panjang dibandingkan sekadar perdagangan produk pertanian. Pada sisi lain, produk perkebunan dan pangan Indonesia memiliki peluang untuk memperluas penetrasi di pasar Rusia. Pemerintah perlu membantu pelaku usaha memenuhi standar kualitas dan persyaratan perdagangan agar akses pasar dapat digunakan secara optimal. Kerja sama yang seimbang dapat membuat kedua negara saling melengkapi kebutuhan sekaligus meningkatkan ketahanan rantai pasok ketika terjadi gangguan perdagangan global.
Teknologi digital juga menjadi bidang yang memiliki ruang pengembangan besar seiring transformasi ekonomi Indonesia. Pemerintah membutuhkan peningkatan kemampuan dalam kecerdasan buatan, keamanan siber, sistem digital industri, komputasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Rusia memiliki basis pendidikan dan penelitian yang kuat pada berbagai bidang sains serta teknologi sehingga kolaborasi dapat dilakukan melalui penelitian bersama maupun pertukaran tenaga ahli. Indonesia berkepentingan memastikan setiap kerja sama teknologi memberikan peningkatan kemampuan bagi tenaga kerja dan lembaga penelitian nasional. Perguruan tinggi dapat dilibatkan agar transfer pengetahuan tidak hanya berlangsung pada tingkat perusahaan. Kolaborasi pendidikan juga dapat diperluas melalui pertukaran mahasiswa, program beasiswa, dan penelitian bersama. Dalam jangka panjang, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang menentukan kemampuan Indonesia memanfaatkan teknologi yang diperoleh dari kerja sama internasional. Perlindungan data serta keamanan nasional tetap harus menjadi pertimbangan dalam setiap bentuk kolaborasi teknologi.
Prabowo melihat EEF sebagai ruang yang dapat mempertemukan berbagai kepentingan tersebut dalam satu forum ekonomi internasional. EEF mempertemukan pemimpin negara, pejabat pemerintah, perusahaan, investor, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap perkembangan ekonomi kawasan Timur Jauh dan Asia Pasifik. Interaksi tersebut memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk tidak hanya membangun hubungan dengan Rusia, tetapi juga menjajaki peluang bersama peserta lain. Forum internasional dapat membantu pemerintah memperkenalkan proyek pembangunan nasional kepada calon investor sekaligus mengetahui perkembangan teknologi dan model investasi yang digunakan negara lain. Namun, setiap pembicaraan tetap membutuhkan tindak lanjut setelah forum berakhir agar tidak berhenti sebagai pernyataan diplomatik. Kementerian dan lembaga terkait harus mengidentifikasi proyek yang memiliki prospek serta menentukan tahapan negosiasi berikutnya. Dunia usaha nasional juga perlu dilibatkan agar kerja sama pemerintah membuka kesempatan bisnis yang lebih luas. Dengan cara tersebut, diplomasi ekonomi dapat menghasilkan manfaat yang lebih konkret.
Hubungan Indonesia-Rusia juga berlangsung di tengah perubahan geopolitik dan ekonomi dunia yang semakin dinamis. Indonesia tetap mempertahankan politik luar negeri bebas aktif dengan membangun hubungan bersama berbagai negara tanpa mengikatkan diri secara eksklusif kepada satu kekuatan. Kerja sama dengan Rusia berjalan bersamaan dengan hubungan Indonesia bersama China, Amerika Serikat, Jepang, India, negara-negara Eropa, serta berbagai mitra lainnya. Diversifikasi tersebut memberikan Indonesia lebih banyak pilihan dalam memperoleh investasi, teknologi, energi, dan pasar ekspor. Pemerintah dapat membandingkan berbagai tawaran dan menentukan mitra berdasarkan manfaat terbaik bagi kepentingan nasional. Pendekatan tersebut juga mengurangi risiko ketergantungan terhadap satu negara ketika terjadi perubahan kondisi geopolitik. Kehadiran Prabowo dalam EEF merupakan bagian dari strategi memperluas jaringan kemitraan tersebut. Indonesia ingin tetap memiliki ruang untuk bekerja sama dengan semua pihak selama hubungan tersebut menghormati kepentingan nasional dan memberikan manfaat timbal balik.
Putin sendiri menyambut positif kehadiran Prabowo di Vladivostok dan menyampaikan apresiasi atas partisipasi Indonesia dalam EEF ke-11. Presiden Rusia menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra penting negaranya di Asia Pasifik serta menyoroti hubungan persahabatan yang telah berlangsung lama. Pernyataan tersebut menunjukkan Rusia memiliki kepentingan memperkuat hubungan dengan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Bagi Moskow, Indonesia juga memiliki posisi penting sebagai anggota ASEAN dan negara yang berada pada jalur perdagangan strategis. Sementara bagi Jakarta, Rusia menawarkan peluang kerja sama pada sektor yang membutuhkan teknologi dan investasi besar. Kepentingan yang saling melengkapi tersebut dapat menjadi dasar pengembangan hubungan yang lebih luas. Tantangannya adalah memastikan pembicaraan tingkat tinggi dapat diterjemahkan menjadi proyek yang realistis dan dapat dijalankan. Setiap kesepakatan membutuhkan perhitungan ekonomi, regulasi, serta pembagian manfaat yang jelas sebelum masuk tahap implementasi.
Kehadiran Prabowo sebagai tamu kehormatan utama EEF ke-11 pada akhirnya menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam jaringan ekonomi kawasan Asia Pasifik. Pernyataannya mengenai EEF sebagai jembatan kerja sama dan konektivitas mencerminkan keinginan Indonesia membangun hubungan yang tidak terbatas pada perdagangan bilateral. Pemerintah melihat peluang untuk mengembangkan konektivitas maritim, investasi, pertanian, teknologi, energi, dan berbagai sektor lain yang dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi. Kemitraan strategis dengan Rusia menjadi salah satu fondasi untuk mengembangkan agenda tersebut tanpa mengurangi hubungan Indonesia dengan mitra internasional lainnya. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap peluang memiliki tindak lanjut dan menghasilkan manfaat yang dapat diukur. Indonesia perlu menjaga kepentingan industri nasional, mendorong transfer teknologi, memperluas pasar ekspor, serta menciptakan lapangan pekerjaan dari setiap kerja sama yang disepakati. EEF dapat menjadi pintu pembuka, sementara keberhasilan sebenarnya akan ditentukan oleh pelaksanaan kesepakatan setelah seluruh rangkaian forum selesai. Dengan pendekatan tersebut, konektivitas kawasan yang disampaikan Prabowo diharapkan dapat berkembang dari gagasan diplomatik menjadi kerja sama ekonomi yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.