Jakarta, 2 September 2026 – Honda dan Nissan memperkuat kerja sama teknologi dengan sepakat mengembangkan serta menyeragamkan sejumlah perangkat elektronik dan perangkat lunak untuk kendaraan generasi berikutnya. Kesepakatan tersebut menjadi langkah strategis kedua produsen otomotif Jepang untuk meningkatkan daya saing di tengah perubahan industri yang semakin mengarah pada kendaraan berbasis software. Kolaborasi ini juga dilakukan ketika produsen mobil China seperti BYD dan sejumlah merek lainnya semakin agresif mengembangkan kendaraan listrik, teknologi konektivitas, serta fitur pintar. Honda dan Nissan berharap penggabungan kemampuan teknik dan sumber daya pengembangan dapat mempercepat inovasi sekaligus menekan biaya riset.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan beberapa Electronic Control Unit (ECU) yang menjadi bagian penting dari kendaraan yang disebut Software-Defined Vehicle atau SDV. ECU berfungsi sebagai pusat pengendalian berbagai sistem elektronik kendaraan, mulai dari fungsi kendaraan hingga pengelolaan berbagai perangkat yang terhubung. Selain perangkat keras, Honda dan Nissan juga akan mengembangkan sistem operasi kendaraan yang berjalan di dalam mobil serta sejumlah bagian penting middleware dan perangkat lunak pengendali kendaraan. Teknologi yang dikembangkan bersama itu nantinya menjadi fondasi bagi arsitektur kelistrikan dan elektronik kendaraan generasi baru.
Arsitektur E/E atau electrical and electronic yang dikembangkan melalui kerja sama tersebut ditargetkan mulai diterapkan pada kendaraan SDV generasi berikutnya milik Honda dan Nissan mulai tahun fiskal 2029. Artinya, konsumen belum akan langsung menemukan teknologi hasil kolaborasi tersebut pada kendaraan yang dipasarkan saat ini. Kedua perusahaan masih membutuhkan waktu untuk menyusun spesifikasi bersama, melakukan pengembangan, pengujian, serta memastikan teknologi dapat diterapkan pada berbagai model. Pengembangan tersebut juga memungkinkan masing-masing merek tetap memiliki karakter dan desain kendaraan sendiri meskipun menggunakan fondasi teknologi yang sama.
Salah satu alasan utama Honda dan Nissan memperkuat kerja sama adalah meningkatnya kebutuhan investasi dalam pengembangan teknologi kendaraan modern. Industri otomotif kini tidak lagi hanya berkompetisi melalui mesin, desain, dan kemampuan mekanis, tetapi juga melalui software, konektivitas, kecerdasan kendaraan, serta sistem bantuan pengemudi. Pengembangan teknologi tersebut membutuhkan sumber daya manusia, komputer, data, dan biaya penelitian yang besar. Dengan berbagi pengembangan pada komponen inti, kedua perusahaan dapat memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien dan mempercepat siklus pengembangan produk.
Persaingan dari produsen China menjadi salah satu latar belakang penting perubahan strategi industri otomotif global. Merek-merek China dalam beberapa tahun terakhir berkembang pesat dalam kendaraan listrik dan teknologi digital yang terintegrasi langsung ke dalam kendaraan. Sejumlah produsen bahkan menjadikan sistem operasi, layar hiburan, konektivitas, pembaruan software, dan fitur berbasis kecerdasan buatan sebagai bagian utama pengalaman berkendara. Kondisi tersebut membuat produsen Jepang perlu mempercepat pengembangan teknologi agar tidak tertinggal dalam perlombaan kendaraan generasi baru.
Honda dan Nissan sebelumnya memang telah membangun kerangka kerja sama strategis di berbagai bidang. Pembicaraan mengenai pengembangan teknologi dilakukan setelah kedua perusahaan sebelumnya sempat menjajaki rencana integrasi bisnis yang akhirnya tidak berlanjut. Meskipun rencana merger tersebut gagal mencapai kesepakatan, hubungan kedua perusahaan tetap berlanjut melalui kerja sama di bidang teknologi dan kendaraan generasi mendatang. Kolaborasi software kini menjadi salah satu bidang yang dinilai memiliki potensi besar untuk menghasilkan efisiensi bagi kedua pihak.
Dalam kesepakatan terbaru, Honda dan Nissan akan menentukan spesifikasi umum untuk sejumlah ECU inti yang digunakan dalam arsitektur kendaraan generasi mendatang. Komponen tersebut mencakup komputer berperforma tinggi berbasis system-on-chip serta zone ECU yang mengatur berbagai bagian kendaraan. Dengan standardisasi tersebut, kedua perusahaan dapat mengurangi duplikasi pengembangan untuk teknologi dasar yang memiliki fungsi serupa. Pada saat yang sama, masing-masing perusahaan tetap dapat mengembangkan fitur dan pengalaman pengguna yang menjadi pembeda produknya.
Pengembangan SDV juga menjadi bagian dari strategi Honda dan Nissan untuk menghadapi era kendaraan yang semakin terhubung dan cerdas. Pada kendaraan jenis ini, sebagian fungsi dapat ditingkatkan atau diperbarui melalui software, sehingga kemampuan mobil tidak sepenuhnya bergantung pada perubahan perangkat keras. Konsep tersebut membuka peluang bagi produsen untuk menghadirkan pembaruan fitur secara lebih fleksibel sekaligus mengembangkan layanan digital baru. Bagi konsumen, perkembangan ini berpotensi membuat kendaraan memiliki kemampuan yang semakin luas setelah mobil digunakan dalam jangka waktu tertentu.
Kerja sama Honda dan Nissan menunjukkan bahwa persaingan otomotif global semakin bergeser dari sekadar siapa yang mampu membuat mobil paling efisien menjadi siapa yang mampu menguasai teknologi kendaraan secara menyeluruh. Pengembangan software, ECU, sistem operasi, konektivitas, dan elektrifikasi kini menjadi bagian penting dalam menentukan daya saing sebuah merek. Dengan memulai pengembangan bersama untuk kendaraan yang ditargetkan hadir mulai 2029, Honda dan Nissan berupaya membangun fondasi teknologi baru sekaligus mengurangi beban investasi masing-masing perusahaan. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya dua raksasa otomotif Jepang untuk mengejar perkembangan teknologi yang semakin cepat dan menghadapi tekanan persaingan dari produsen China maupun pemain global lainnya.