Jakarta, 16 September 2026 – PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK), emiten yang terafiliasi dengan keluarga Kalla, memberikan penjelasan mengenai upaya memenuhi ketentuan minimum saham beredar di masyarakat atau free float sebesar 15 persen. Berdasarkan data per 31 Agustus 2026, porsi free float BUKK tercatat baru mencapai 6,17 persen. Posisi tersebut masih berada di bawah ketentuan baru yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia. Manajemen menyatakan tengah mengkaji berbagai pilihan untuk meningkatkan jumlah saham yang dimiliki publik. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penjualan sebagian saham milik pemegang saham utama kepada masyarakat. Langkah tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi perusahaan dan pasar modal.
Ketentuan mengenai free float tertuang dalam perubahan Peraturan Nomor I-A yang diberlakukan BEI pada 2026. Aturan tersebut menetapkan perusahaan tercatat harus memiliki saham free float sedikitnya 15 persen dari total saham yang tercatat di bursa. Kebijakan itu merupakan peningkatan dari ketentuan sebelumnya yang menetapkan batas minimum 7,5 persen. Perubahan dilakukan sebagai bagian dari reformasi pasar modal untuk memperkuat likuiditas, transparansi, dan kualitas perdagangan saham. Emiten lama diberikan masa transisi sehingga penyesuaian tidak harus dilakukan sekaligus. Periode pemenuhan juga dapat berbeda berdasarkan kapitalisasi dan posisi free float masing-masing perusahaan.
Direktur Utama Bukaka Teknik Utama Irsal Kamarudin menjelaskan perseroan masih melakukan penelaahan terhadap sejumlah opsi yang dapat digunakan. Penjualan saham oleh pemegang saham utama kepada publik menjadi salah satu alternatif yang sedang dipertimbangkan. Opsi tersebut dapat meningkatkan jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan tanpa harus mengubah kegiatan operasional perusahaan. Namun, pelaksanaannya tetap perlu memperhitungkan kondisi pasar dan kepentingan pemegang saham. Manajemen belum menetapkan secara terperinci jumlah saham maupun waktu transaksi yang akan dilakukan. Setiap aksi korporasi material nantinya harus mengikuti ketentuan pasar modal yang berlaku.
Dalam jangka pendek, BUKK berupaya terlebih dahulu meningkatkan porsi free float menjadi 7,5 persen. Setelah target tersebut tercapai, perusahaan akan melanjutkan penyesuaian secara bertahap menuju ketentuan 15 persen. Manajemen menargetkan pemenuhan penuh dapat dilakukan pada 2029. Jadwal tersebut disesuaikan dengan masa transisi yang tersedia dalam perubahan regulasi BEI. Dengan posisi free float 6,17 persen, BUKK masih membutuhkan peningkatan cukup besar untuk mencapai target akhir. Karena itu, strategi penambahan saham publik akan menjadi salah satu agenda perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
Manajemen BUKK juga berharap BEI memberikan waktu yang memadai bagi perusahaan untuk menjalankan proses penyesuaian. Pemenuhan free float membutuhkan perencanaan karena berkaitan dengan struktur kepemilikan saham dan kondisi perdagangan di pasar. Pelepasan saham dalam jumlah besar secara sekaligus dapat memengaruhi dinamika harga maupun keseimbangan permintaan dan penawaran. Pendekatan bertahap dinilai memberikan ruang bagi perusahaan dan pemegang saham untuk menyesuaikan struktur kepemilikan. BUKK menyatakan akan tetap menyampaikan informasi material kepada otoritas dan publik sesuai ketentuan. Transparansi menjadi penting selama proses peningkatan free float berlangsung.
Kebijakan free float 15 persen sendiri diarahkan untuk meningkatkan jumlah saham yang aktif diperdagangkan di pasar. Semakin besar saham yang tersedia bagi publik, likuiditas perdagangan secara umum berpotensi meningkat. Kepemilikan yang lebih tersebar juga dapat memperluas partisipasi investor terhadap saham suatu perusahaan. Otoritas pasar modal sebelumnya menyatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menyesuaikan pasar saham Indonesia dengan praktik dan ekspektasi internasional. Selain melalui pelepasan saham pemegang saham utama, emiten memiliki sejumlah pilihan aksi korporasi untuk meningkatkan free float. Pilihan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing perusahaan.
BUKK bukan satu-satunya perusahaan yang masih harus melakukan penyesuaian terhadap ketentuan tersebut. Ratusan emiten tercatat masih memiliki free float di bawah 15 persen ketika aturan baru mulai diterapkan. Karena itu, BEI menyediakan mekanisme transisi agar peningkatan saham publik dapat berlangsung secara bertahap. Bursa juga terus meminta perusahaan menyampaikan perkembangan rencana pemenuhan ketentuan tersebut. Bagi investor, peningkatan free float dapat memengaruhi likuiditas dan aktivitas transaksi suatu saham. Namun, dampaknya terhadap harga tetap dipengaruhi banyak faktor lain, termasuk kinerja perusahaan dan kondisi pasar.
Rencana BUKK mengejar free float 7,5 persen dalam waktu dekat menjadi tahap awal sebelum menuju target 15 persen pada 2029. Perusahaan masih memiliki waktu untuk menentukan mekanisme yang dinilai paling sesuai, termasuk kemungkinan pelepasan saham oleh pemegang saham utama. Pelaksanaan rencana tersebut akan bergantung pada hasil kajian manajemen, kondisi pasar, serta ketentuan yang berlaku di BEI. Investor akan mencermati perkembangan karena peningkatan jumlah saham publik dapat mengubah struktur kepemilikan sekaligus likuiditas perdagangan BUKK. Manajemen menegaskan proses penyesuaian akan dilakukan secara bertahap. Target akhirnya adalah memenuhi ketentuan free float baru tanpa mengabaikan stabilitas perusahaan dan kepentingan para pemegang saham.