Banyuwangi, 28 September 2026 – Antrean kendaraan angkutan barang menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, kembali memanjang hingga sekitar sembilan kilometer. Kepadatan terutama didominasi kendaraan logistik yang hendak menyeberang menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Kondisi tersebut berdampak pada kelancaran distribusi barang melalui jalur utama Jawa-Bali. Kalangan pengusaha angkutan menilai persoalan kapasitas dan pengelolaan pelabuhan perlu mendapat perhatian agar antrean panjang tidak terus berulang.
Antrean kendaraan terlihat mengular di sepanjang jalur menuju Pelabuhan Ketapang sejak pagi. Pada sejumlah titik, kendaraan besar harus bergerak perlahan dan menunggu cukup lama sebelum memperoleh giliran masuk ke area pelabuhan. Kepadatan juga memengaruhi arus kendaraan masyarakat yang melintas di jalur yang sama. Petugas melakukan pengaturan lalu lintas untuk mencegah antrean mengganggu akses jalan secara lebih luas.
Pengusaha angkutan menilai ketidakseimbangan antara volume kendaraan dan kapasitas pelayanan menjadi salah satu persoalan yang perlu dievaluasi. Ketika jumlah truk yang datang meningkat dalam waktu bersamaan, ruang penampungan kendaraan menuju pelabuhan menjadi terbatas. Kondisi tersebut membuat antrean meluas hingga ke jalan raya. Hambatan operasional kapal maupun dermaga juga dapat memperpanjang waktu tunggu kendaraan sebelum menyeberang.
Situasi kali ini turut dipengaruhi dampak aksi pengemudi angkutan logistik yang berlangsung sehari sebelumnya. Setelah aktivitas penyeberangan kembali berjalan, kendaraan yang sebelumnya tertahan bergerak menuju pelabuhan dalam waktu yang relatif berdekatan. Penumpukan tersebut membuat antrean sempat mencapai lebih dari sembilan kilometer pada pagi hari. Menjelang siang, panjang antrean dilaporkan berada di kisaran 7,8 kilometer.
Pelaku usaha berharap pengelola pelabuhan dan pemerintah menyiapkan sistem yang mampu mengantisipasi lonjakan kendaraan, terutama pada periode dengan arus logistik tinggi. Penambahan kapasitas penampungan, optimalisasi dermaga, serta pengaturan jadwal kendaraan dinilai dapat menjadi bagian dari evaluasi. Pengelolaan kantong parkir atau buffer zone juga diperlukan agar kendaraan tidak langsung menumpuk di jalan nasional. Sistem tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak antrean terhadap pengguna jalan lainnya.
Pelabuhan Ketapang memiliki posisi penting dalam jaringan distribusi barang antara Pulau Jawa dan Bali. Gangguan pada penyeberangan dapat berdampak terhadap waktu perjalanan kendaraan logistik sekaligus meningkatkan biaya operasional perusahaan angkutan. Pengemudi juga harus menanggung waktu tunggu lebih panjang ketika antrean terjadi. Karena itu, kelancaran operasional Ketapang-Gilimanuk menjadi perhatian pelaku usaha yang mengandalkan jalur tersebut untuk mengirim barang.
Antrean panjang menuju Pelabuhan Ketapang bukan pertama kali terjadi dan sebelumnya bahkan pernah mencapai belasan kilometer. Kondisi berulang tersebut mendorong perlunya evaluasi terhadap kapasitas serta pola pengaturan kendaraan menuju pelabuhan. Petugas terus melakukan pengaturan arus untuk mengurai kepadatan secara bertahap, sementara kendaraan logistik diarahkan mengikuti sistem antrean yang diberlakukan. Pelaku usaha berharap pembenahan jangka panjang dapat dilakukan agar distribusi barang Jawa-Bali tidak kembali terganggu oleh antrean kendaraan yang berkepanjangan.