Jakarta, 26 Mei 2026 – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menilai perayaan Idul Adha seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah semata, tetapi juga menjadi momentum refleksi terhadap kondisi sosial masyarakat, termasuk persoalan kesenjangan ekonomi yang masih terjadi di berbagai daerah. Dalam pesan yang disampaikan menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, ia mengingatkan pentingnya semangat berbagi, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap kelompok masyarakat yang masih menghadapi kesulitan hidup. Menurutnya, nilai utama dari Idul Adha terletak pada pengorbanan dan keikhlasan untuk membantu sesama, terutama mereka yang belum merasakan kesejahteraan secara merata. Di tengah perkembangan ekonomi dan modernisasi, kesenjangan sosial disebut masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian bersama. Karena itu, momentum Idul Adha dinilai relevan untuk memperkuat empati sosial dan semangat gotong royong di masyarakat.
Ketua PP Muhammadiyah menyoroti bahwa masih banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, menghadapi akses pendidikan yang tidak merata, hingga kesulitan memperoleh layanan kesehatan yang layak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat. Ia mengajak umat Islam menjadikan ibadah kurban sebagai simbol kepedulian nyata terhadap sesama, bukan sekadar rutinitas tahunan tanpa makna sosial yang mendalam. Distribusi daging kurban yang merata dan tepat sasaran disebut dapat menjadi salah satu bentuk konkret dalam membantu masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, semangat berbagi juga diharapkan terus hidup dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya saat momentum hari besar keagamaan berlangsung.
Pengamat sosial menilai pesan yang disampaikan Muhammadiyah mencerminkan tantangan nyata yang masih dihadapi Indonesia dalam bidang pemerataan kesejahteraan. Meski pertumbuhan ekonomi nasional terus bergerak, kesenjangan pendapatan dan akses layanan dasar di sejumlah wilayah masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius. Dalam konteks tersebut, organisasi keagamaan memiliki peran penting untuk memperkuat nilai solidaritas sosial dan membangun kesadaran kolektif di masyarakat. Momentum Idul Adha memang sering dijadikan sarana untuk mengingatkan kembali pentingnya kepedulian sosial di tengah gaya hidup modern yang cenderung individualistis. Oleh sebab itu, pesan moral dan sosial dari hari raya keagamaan dinilai memiliki relevansi besar terhadap kondisi masyarakat saat ini.
Di sisi lain, kegiatan kurban selama Idul Adha juga memberikan dampak ekonomi dan sosial yang cukup luas bagi masyarakat. Distribusi daging kurban membantu memenuhi kebutuhan pangan kelompok masyarakat kurang mampu, sementara sektor peternakan lokal memperoleh peningkatan permintaan ternak dalam jumlah besar. Muhammadiyah dan berbagai organisasi keagamaan lain juga diketahui aktif menjalankan program distribusi kurban hingga ke wilayah terpencil dan daerah dengan tingkat kesejahteraan rendah. Langkah tersebut dinilai mampu memperkuat rasa kebersamaan dan mengurangi jarak sosial antarwarga. Pemerintah dan masyarakat diharapkan terus mendukung kegiatan sosial berbasis keagamaan yang memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat luas.
Ketua PP Muhammadiyah berharap Idul Adha dapat menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa untuk terus memperkuat kepedulian terhadap persoalan sosial dan ketimpangan ekonomi. Ia menekankan bahwa nilai pengorbanan dalam Idul Adha seharusnya diterjemahkan dalam bentuk kepedulian nyata terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan dan perhatian bersama. Selain mempererat hubungan spiritual, hari raya keagamaan juga diharapkan mampu memperkuat solidaritas sosial dan semangat kebangsaan di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Dengan meningkatnya kepedulian sosial dan semangat berbagi, masyarakat diharapkan dapat bersama-sama menciptakan kehidupan yang lebih adil dan harmonis. Momentum Idul Adha pun dipandang bukan hanya sebagai perayaan keagamaan, tetapi juga kesempatan memperkuat nilai kemanusiaan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.