Jayawijaya, 18 September 2026 – Satgas Operasi Damai Cartenz menemukan selongsong amunisi laras panjang kaliber 5,56 milimeter saat melakukan penanganan dan evakuasi terhadap sopir travel Aris Sanda (41) yang ditemukan meninggal dunia di kawasan Jalan Poros Habema KM 32, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Korban diduga menjadi sasaran penembakan kelompok bersenjata ketika melakukan perjalanan menuju Mbua pada Selasa, 15 September 2026. Selain selongsong amunisi, aparat menemukan sebuah tas yang berisi identitas korban di sekitar lokasi kejadian. Kendaraan yang digunakan korban ditemukan dalam kondisi hangus terbakar. Polisi masih menyelidiki rangkaian kejadian untuk menentukan secara pasti pihak yang bertanggung jawab. Informasi awal mengarah pada dugaan keterlibatan kelompok bersenjata dari wilayah Kodap III Ndugama, tetapi aparat menegaskan informasi tersebut masih harus diverifikasi lebih lanjut.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz Kombes Pol Yusuf Sutejo mengatakan barang bukti ditemukan ketika personel melakukan penanganan tempat kejadian perkara dan proses evakuasi korban. Satu selongsong amunisi kaliber 5,56 milimeter kemudian diamankan untuk kepentingan penyelidikan. Temuan tersebut menjadi salah satu bukti fisik yang akan diperiksa untuk membantu mengungkap kronologi penembakan. Aparat juga mengamankan tas berisi identitas korban yang ditemukan di sekitar lokasi. Polisi belum menyampaikan kesimpulan mengenai jenis senjata yang digunakan ataupun pihak yang menembakkan amunisi tersebut. Penyelidikan masih berlangsung dengan mengumpulkan keterangan dan barang bukti lain yang dapat membantu mengidentifikasi pelaku.
Peristiwa bermula ketika Aris melakukan perjalanan menggunakan kendaraan travel dari Ilekma menuju Mbua. Korban saat itu membawa bahan kebutuhan pokok sekaligus mengangkut sembilan penumpang. Sekitar pukul 08.30 WIT, rombongan diduga mengalami pengadangan ketika melintas di kawasan Habema. Jalan tersebut menjadi salah satu jalur yang menghubungkan sejumlah wilayah di kawasan pegunungan dan digunakan masyarakat untuk mobilitas maupun distribusi kebutuhan sehari-hari. Setelah kejadian, informasi mengenai dugaan kekerasan terhadap pengemudi travel diterima aparat keamanan. Tim gabungan kemudian bergerak menuju lokasi untuk melakukan pencarian dan memastikan kondisi korban serta penumpang.
Dalam proses pencarian, aparat menemukan kendaraan yang digunakan korban dalam keadaan hangus terbakar. Aris ditemukan meninggal dunia dan kemudian dievakuasi untuk menjalani penanganan lebih lanjut. Kondisi kendaraan membuat aparat harus melakukan pemeriksaan secara hati-hati untuk mengumpulkan bukti yang masih dapat digunakan dalam penyelidikan. Satgas Operasi Damai Cartenz bersama unsur kepolisian dan TNI kemudian melakukan tindakan pertama di tempat kejadian perkara serta olah TKP. Selongsong amunisi yang ditemukan menjadi salah satu barang bukti yang dianggap penting dalam proses tersebut. Polisi masih berupaya merekonstruksi urutan kejadian sejak kendaraan korban diduga dihadang hingga akhirnya ditemukan terbakar.
Yusuf memastikan penyelidikan akan terus dilakukan untuk mengidentifikasi dan menangkap pihak yang terlibat. Salah satu informasi yang saat ini didalami mengarah pada dugaan keterlibatan kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah Kodap III Ndugama. Namun, aparat belum menyatakan informasi tersebut sebagai kesimpulan akhir. Keberadaan kelompok di sekitar lokasi dan kemungkinan keterlibatannya masih harus diperiksa melalui proses verifikasi. Polisi juga belum mengumumkan identitas individu yang diduga melakukan penembakan. Pendalaman diperlukan agar penetapan pihak yang bertanggung jawab didasarkan pada bukti dan hasil penyelidikan, bukan hanya informasi awal yang berkembang setelah kejadian.
Kepala Operasi Damai Cartenz-2026 Irjen Pol Faizal Ramadhani mengatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas dalam penanganan gangguan keamanan di wilayah tersebut. Setelah memperoleh informasi mengenai dugaan kekerasan di Habema, personel melakukan serangkaian tindakan mulai dari pencarian, pengamanan lokasi, olah tempat kejadian perkara, pengumpulan barang bukti, hingga evakuasi korban. Langkah tersebut juga melibatkan koordinasi dengan unsur keamanan lain yang berada di wilayah Jayawijaya. Kondisi geografis kawasan pegunungan menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam setiap kegiatan aparat. Pengamanan diperlukan agar proses penyelidikan dapat berlangsung tanpa meningkatkan risiko bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar jalur tersebut. Aparat juga terus mengumpulkan informasi mengenai pergerakan kelompok bersenjata yang diduga berada di sekitar lokasi kejadian.
Tim gabungan yang menangani peristiwa tersebut melibatkan Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz-2026, Polres Jayawijaya, Batalyon B Satbrimobda Papua, serta Satgas Koops TNI Habema. Keterlibatan beberapa unsur diperlukan untuk membantu pengamanan sekaligus proses evakuasi di lokasi kejadian. Jalur Habema mempunyai kondisi geografis yang membutuhkan kesiapan personel dan kendaraan dalam kegiatan penanganan keamanan. Aparat juga harus memastikan masyarakat yang menggunakan jalur tersebut tetap memperoleh perlindungan setelah terjadinya insiden. Penyelidikan terhadap kasus Aris tidak hanya diarahkan untuk mengetahui pelaku, tetapi juga memahami rangkaian kejadian dan kemungkinan motif di balik serangan. Temuan barang bukti di lokasi akan menjadi bagian dari proses pembuktian tersebut.
Korban diketahui merupakan warga asal Toraja, Sulawesi Selatan, yang bekerja sebagai sopir travel. Pada saat kejadian, pekerjaannya membawa korban melewati jalur Ilekma menuju Mbua dengan mengangkut penumpang dan kebutuhan pokok. Aktivitas transportasi seperti itu mempunyai peran penting bagi masyarakat di wilayah pegunungan karena membantu pergerakan warga sekaligus distribusi barang. Peristiwa penembakan terhadap pengemudi kendaraan sipil karena itu turut menjadi perhatian aparat dari sisi keamanan jalur transportasi. Polisi perlu memastikan kondisi keamanan setelah kejadian agar aktivitas masyarakat tidak semakin terganggu. Pengamanan dan pemantauan di sekitar Habema juga menjadi bagian dari langkah aparat setelah insiden tersebut.
Temuan selongsong kaliber 5,56 milimeter dapat membantu penyidik dalam pemeriksaan balistik dan rekonstruksi kejadian, tetapi barang bukti tersebut belum dengan sendirinya memastikan identitas pelaku. Aparat masih membutuhkan bukti tambahan dan keterangan lain untuk menghubungkan temuan di tempat kejadian dengan pihak tertentu. Karena itu, dugaan keterlibatan Kodap III Ndugama masih berada pada tahap pendalaman. Polisi menyatakan akan terus melakukan penyelidikan untuk mengejar pihak yang bertanggung jawab. Pemeriksaan terhadap lokasi, barang bukti, informasi masyarakat, serta kemungkinan jejak lain akan digunakan untuk memperjelas rangkaian peristiwa. Pendekatan tersebut diperlukan agar proses penegakan hukum dilakukan berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kasus meninggalnya Aris Sanda kini masih berada dalam penyelidikan Satgas Operasi Damai Cartenz bersama aparat keamanan di Papua Pegunungan. Selongsong amunisi laras panjang kaliber 5,56 milimeter dan tas berisi identitas korban telah diamankan sebagai barang bukti dari lokasi kejadian. Aparat masih mendalami dugaan bahwa korban ditembak ketika kendaraannya dihadang di Jalan Poros Habema sebelum kendaraan tersebut ditemukan hangus terbakar. Informasi mengenai kemungkinan keterlibatan kelompok bersenjata Kodap III Ndugama juga terus diverifikasi dan belum menjadi kesimpulan final. Polisi menyatakan pengejaran terhadap pihak yang diduga terlibat akan dilanjutkan bersamaan dengan pemeriksaan barang bukti. Penanganan perkara diharapkan dapat mengungkap kronologi secara utuh sekaligus menentukan pihak yang bertanggung jawab berdasarkan hasil penyelidikan.