Jakarta, 6 September 2026 – Tim penyelamat di Nepal menemukan seorang perempuan dalam kondisi hidup setelah selama 10 hari terjebak di sebuah rumah yang tertimbun lumpur dan reruntuhan akibat banjir bandang dahsyat. Perempuan bernama Chandika Shrestha itu ditemukan di Betrawati, Distrik Nuwakot, pada Sabtu, 5 September 2026. Rumah tempatnya berlindung mengalami kerusakan parah dan sebagian besar bangunan terkubur material yang terbawa banjir. Tim Armed Police Force (APF) Nepal menemukan Shrestha setelah mendengar suara lemah dari sekitar bangunan ketika melakukan kegiatan di kawasan terdampak. Petugas kemudian menggali lumpur dan membuka akses melalui bagian bangunan untuk mencapai lokasi korban. Penemuan tersebut menjadi salah satu kisah penyelamatan paling dramatis setelah bencana yang melanda Nepal sejak 26 Agustus.
Shrestha dilaporkan berusia sekitar 60-an tahun dan merupakan warga Betrawati di Bidur Municipality-10. Ia menghilang bersama empat anggota keluarganya ketika banjir bandang menerjang kawasan tersebut dan menghancurkan banyak permukiman. Selama lebih dari sepekan, keluarga tidak mendapatkan informasi mengenai keberadaannya sehingga harapan untuk menemukannya dalam keadaan hidup semakin menipis. Bahkan, pada hari kedelapan setelah bencana, keluarganya telah mulai melakukan ritual kematian karena menganggap Shrestha kemungkinan tidak selamat. Namun dugaan tersebut berubah ketika tim penyelamat menemukan tanda-tanda kehidupan dari rumah yang tertimbun. Kabar bahwa Shrestha berhasil ditemukan hidup kemudian memberikan harapan baru bagi keluarga korban lain yang masih menunggu kepastian mengenai kerabat mereka.
Proses penyelamatan berlangsung dalam kondisi yang tidak mudah karena bangunan tempat Shrestha terjebak telah dipenuhi lumpur dan material banjir. Tim beranggotakan sembilan personel APF yang dipimpin Inspektur Suman Kumar BK melakukan upaya untuk mencapai bagian rumah tempat korban berada. Petugas awalnya mendengar suara samar ketika melintas di sekitar bangunan yang sebelumnya juga telah diperiksa. Setelah suara tersebut terdengar kembali, mereka segera membersihkan lumpur dan mencari jalur masuk yang memungkinkan. Tim akhirnya memecahkan sebuah jendela dan merangkak memasuki ruangan yang penuh lumpur untuk mencapai Shrestha. Ketika petugas semakin dekat, suara perempuan tersebut mulai terdengar lebih jelas sehingga memastikan masih terdapat korban hidup di dalam bangunan.
Kondisi rumah memperlihatkan besarnya kekuatan banjir yang menghantam Betrawati. Bangunan empat lantai tersebut dilaporkan bergeser hampir 100 meter akibat terjangan air, lumpur, batu, dan berbagai material lainnya. Sekitar tiga setengah lantai bangunan terkubur, sementara hanya sebagian lantai paling atas yang masih dapat terlihat. Shrestha ditemukan di bagian atas rumah dalam kondisi lemah setelah bertahan selama berhari-hari di tengah lingkungan yang tertutup material. Gambar dari proses penyelamatan memperlihatkan tubuh dan pakaian korban dipenuhi lumpur ketika petugas memberikan bantuan awal. Kondisi ruang yang sempit dan dipenuhi lumpur membuat petugas harus bergerak hati-hati ketika mengevakuasinya dari bangunan.
Setelah berhasil dikeluarkan, Shrestha segera mendapatkan pertolongan dan dievakuasi menggunakan helikopter. Ia terlebih dahulu dibawa menuju fasilitas militer Nepal di Trishuli sebelum kemudian mendapatkan perawatan lanjutan di Kathmandu. Kondisi kesehatannya menjadi perhatian karena ia telah terjebak dalam waktu sangat lama dengan akses makanan, air, dan lingkungan yang sangat terbatas. Petugas memberikan air kepada korban setelah ditemukan sebelum proses pemindahan dilakukan secara hati-hati. Pemerintah Nepal memastikan penanganan medis menjadi prioritas setelah korban berhasil dikeluarkan dari reruntuhan. Keberhasilannya bertahan selama sekitar 10 hari dinilai luar biasa mengingat kondisi bangunan dan luasnya kerusakan akibat banjir.
Meski Shrestha ditemukan hidup, empat anggota keluarganya yang berada di lokasi ketika banjir menerjang masih belum ditemukan. Salah seorang kerabat yang berhasil menyelamatkan diri sebelumnya menggambarkan bagaimana bangunan tersebut terseret oleh derasnya arus dalam waktu sangat singkat. Sejumlah anggota keluarga berada di dalam rumah ketika gelombang air dan lumpur datang menghantam permukiman. Tim pencarian masih menyisir kawasan tersebut untuk menemukan korban yang belum diketahui keberadaannya. Polisi juga menggunakan pesawat nirawak untuk memeriksa area berlumpur yang sulit dijangkau petugas secara langsung. Sedikitnya 24 jenazah ditemukan dari kawasan sekitar melalui pencarian yang dibantu pemantauan udara tersebut.
Penyelamatan Shrestha terjadi ketika operasi pencarian di Nepal mulai menemukan sejumlah korban hidup setelah lebih dari sepekan bencana berlangsung. Pada hari yang sama, seorang warga negara China bernama Lu Haitao berhasil diselamatkan dari terowongan sepanjang ratusan meter di proyek pembangkit listrik tenaga air Upper Trishuli-I di Distrik Rasuwa. Tim gabungan Nepal dan tenaga penyelamat Korea Selatan menemukan Lu sekitar 225 meter dari pintu masuk terowongan. Sehari sebelumnya, dua pekerja Nepal juga berhasil dikeluarkan dari terowongan proyek Upper Trishuli 3A setelah bertahan selama berhari-hari. Rangkaian penyelamatan tersebut meningkatkan optimisme bahwa masih terdapat korban yang dapat ditemukan hidup di lokasi lain. Tim pencarian karena itu terus memeriksa bangunan, terowongan, dan kawasan yang tertutup material banjir.
Banjir dahsyat yang melanda Nepal bermula pada 26 Agustus setelah keruntuhan material gletser dan batu di kawasan pegunungan memicu aliran air dan lumpur dalam skala besar. Gelombang tersebut menerjang lembah di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet serta menghancurkan rumah, jalan, sekolah, dan sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air. Ribuan orang terseret atau terjebak ketika aliran material bergerak melalui permukiman dengan kecepatan tinggi. Data terbaru menunjukkan sedikitnya 1.344 orang telah ditemukan meninggal dunia di Nepal, sementara hampir 5.000 orang masih dinyatakan hilang. Besarnya jumlah korban membuat operasi pencarian dilakukan secara luas dengan melibatkan ribuan personel keamanan dan tim penyelamat internasional. Sejumlah wilayah yang sulit dijangkau masih menjadi fokus pencarian karena kemungkinan terdapat korban terperangkap di bawah bangunan maupun di dalam terowongan.
Operasi penyelamatan juga difokuskan pada sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air yang mengalami kerusakan berat. Sekitar 900 pekerja dilaporkan masih hilang dari 12 proyek, sementara ratusan di antaranya diperkirakan berada di dalam berbagai terowongan ketika banjir menerjang. Tim khusus dari sejumlah negara ikut membantu pencarian karena operasi di dalam terowongan membutuhkan peralatan dan keahlian berbeda dibandingkan pencarian pada bangunan terbuka. Lumpur, kerusakan struktur, keterbatasan udara, dan risiko runtuhan lanjutan menjadi tantangan besar bagi petugas. Penemuan beberapa pekerja dalam keadaan hidup setelah 10 hari memberikan alasan bagi tim untuk mempertahankan operasi penyelamatan secara intensif. Petugas menilai belum waktunya menghentikan pencarian hanya karena tidak terdapat suara atau tanda kehidupan dari lokasi tertentu.
Keberhasilan menyelamatkan Chandika Shrestha setelah 10 hari menjadi titik harapan di tengah besarnya korban jiwa akibat salah satu bencana terburuk yang melanda Nepal dalam beberapa tahun terakhir. Keluarganya yang sebelumnya telah memulai ritual kematian akhirnya mendapatkan kabar bahwa Shrestha masih hidup dan berhasil mendapatkan perawatan medis. Pada saat bersamaan, ribuan keluarga lainnya masih menunggu kabar mengenai kerabat yang belum ditemukan sejak banjir menerjang. Tim penyelamat terus membersihkan lumpur, memeriksa bangunan, menelusuri terowongan, dan menggunakan berbagai peralatan untuk menemukan kemungkinan korban yang masih bertahan. Penemuan korban hidup setelah lebih dari sepekan memperlihatkan pentingnya mempertahankan operasi pencarian selama masih terdapat kemungkinan keselamatan. Pemerintah Nepal bersama tim internasional akan melanjutkan pencarian di berbagai wilayah terdampak sambil memberikan penanganan kepada para korban yang berhasil dievakuasi.